- Home »
- apit , arena tajen , bebotoh , cok , gasal , kedapang , Kode metoh , pada , pakembar , petarung unggulan , tajen , taruhan , telude »
- Istilah di Arena Judi Ayam Bali
INDO888 > Online Betting By. jhanqrik333
Unknown
On Selasa, 20 September 2016
INDO888 Online Betting - Istilah di Arena Judi Ayam Bali - Kode metoh sendiri tidak lah terlepas dari kebiasaan kebiasaan yang timbul dan dilakukan oleh para bebotoh. Konon, keberadaan bebotoh amat menentukan ramai tidaknya tajen. Bahkan tajen dan bebotoh ibarat dua sejoli yang tak terpisahkan.
Betapa tidak, karena arena tajen sering diramaikan teriakanteriakan istilah yang tak lazim, antara lain gasal, cok, pada, telude, apit, dan kedapang. Gasal adalah sistem taruhan dengan perbandingan lima banding empat. Cok adalah, sistem taruhan tiga lawan empat, Pada (sama) adalah taruhan satu lawan satu. Telude adalah, dua banding tiga, Apit adalah menggunakan satu banding dua, sedangkan Kedapang sembilan banding sepuluh.
Biasanya sebelum pertarungan dimulai, dua pakembar, “petugas”
yang melepas ayam sebelum bertarung, terlebih dahulu memperkenalkan
setiap ayam dengan cara meletakkannya dalam sebuah segi empat di tengah wantilan.
Saat itu, akan tampak mana ayam yang pantas diunggulkan dan mana yang
tidak. Misalnya seorang pakembar membawa ayam jambul, sedangkan yang
lain membawa ayam kelau. Jika ada bebotoh yang menjagokan ayam jambul,
ia berteriak menyambut. Jika hingga pakembar selesai dengan acara
perkenalan itu tidak ada bebotoh yang mengunggulkan ayam kelau, otomatis
ayam jambul menjadi unggulan. Selanjutnya, para bebotoh riuh menawarkan taruhan.
Bebotoh
yang ingin mendapatkan “musuh” biasanya meneriakkan sistem taruhan yang
dipilih dari tempatnya, tanpa perlu berkeliling arena. Maka, yang
menimpali teriakannya akan menjadi lawan taruhan. Bebotoh pun dapat
menggunakan jari tangan sebagai isyarat sistem taruhan yang ia inginkan.
Maka lawan yang berminat pun membalas dengan isyarat serupa.
Setelah seekor ayam dinyatakan sebagai “petarung unggulan”,
seseorang yang meneriakkan “cok” berarti memegang ayam yang menjadi
lawan si unggulan. Syaratnya, kalau menang ia akan mendapatkan uang
sebesar taruhan, sedangkan kalau kalah ia hanya membayar tiga perempat
dari jumlah taruhan yang disepakati.
Dalam
tajen pun ada wasit, yang disebut saya. Di setiap tajen bali ada empat
saya yang bertugas yakni saya kemong, ketek, garis, dan lap. Saya kemong
biasanya selalu didampingi gong kecil yang disebut kemong, paling
tinggi jabatannya. Ia menentukan kapan memulai dan mengakhiri
pertarungan.
Jika salah seekor ayam aduan sudah terkapar, bebotoh yang kalah akan menghampiri lawan untuk menyerahkan uang taruhan.
Dalam
pertandingan atau acara tajen, semua peraturan peraturan dalam tajen
biasa dipatuhi dan dijalankan tanpa ada kecurangan, karena tajen sangat
kerat dengan adat bali, maka jika terdapat kecurangan, maka si pelaku
bisa di keroyok, bahkan sanak saudaranya pun terkena imbasnya.. oleh
karena itu semua berkalu dengan tertib, yang kalah harus bayar kepada
yang menang dan sebaliknya.



